Greetings

Hello. My name is Tchi and this blog’s mine. I don’t write my own story here. I write about my RPG characters and Binjai Kingdom’s funny stories. Click here to read ‘my real stories’.

RPG Characters

RPG Characters

Wednesday, April 21, 2010

Boutique Chaudron, 2001

Di depan toko kuali dan bahan ramuan, sepasang ibu-anak yang cukup mirip dan sama-sama cantik sibuk berdebat. Percakapan keduanya memang tidak terlalu berisik sampai mengganggu pengunjung yang hilir-mudik masuk dan keluar toko, tetapi dari raut muka keduanya, jelaslah bahwa percakapan itu bukan sekedar bincang-bincang ringan tentang bahan ramuan apa yang hendak dibeli.

“Maman saja yang belikan! Aku tidak mau masuk ke dalam! Kalau ada kaki kodok atau sayap kelelawar bagaimana? Jijiiiik!” omel si anak, gadis belia berambut coklat dengan mata sewarna yang bertubuh cukup tinggi. Bibir merah mudanya mengerucut tak suka, hidungnya mengerut seolah-olah kaki kodok dan sayap kelelawar yang dibicarakannya tiba-tiba disodorkan tepat di bawah hidungnya. Tangannya terlipat di dada, kebiasaannya saat sikap keras kepalanya muncul.

“Kau terlalu sering mendengar cerita konyol dari kakekmu! Tidak ada yang seperti itu di dalam sana, dan mau tidak mau di sekolah nanti kau akan tetap belajar ramuan!” seru ibunya, wanita muda yang elegan dengan mata keemasan menawan. Sudah lewat lima menit mereka berdebat di depan toko, dan entah kapan tercapai kata sepakat. Ibunya bersikeras tidak mau membelikan bahan ramuan untuk putrinya—gadis kecil itu harus belajar mengatasi rasa tidak sukanya terhadap apapun. Lagipula sejak tadi ia merasa senang berbelanja; membeli tongkat, seragam, buku, sama sekali tak ingin ditemani apalagi digantikan. Dan tak ada pengecualian dalam membeli kuali dan bahan ramuan.

“Maman juga tidak suka ramuan!” protes gadis itu, Charmélle Ghyslain, seraya mengentak-entakkan kakinya teras toko itu. Tapi akhirnya, setelah mendapat tatapan hipnotis sang ibu yang sama keras kepalanya, ia menurut dan menyambar keping-keping Galleon dalam genggaman ibunya. Gadis belia itu masuk ke dalam toko, nyaris memejamkan mata.

Namun ternyata kekhawatirannya sungguh tak beralasan. Toko tersebut tertata rapi dan apik, bahkan terbilang toko yang nyaman dikunjungi. Tidak terlihat sedikitpun semua hal mengerikan dalam benaknya, seperti liur naga yang menetes dari langit-langit, kuali rongsok tergantung, teropong berdebu, atau apapun yang semacam itu tampak di seantero toko. Lagipula kalau dipikir-pikir, di zaman milenium sekarang, mana ada lagi tempat mengerikan seperti itu? Apalagi untuk berbisnis—bisa-bisa tidak akan ada pengunjung kalau tempatnya tak nyaman. Gadis itu nyengir sendiri karena dugaannya salah. Ia berjalan mendekati meja konter, dimana sudah menunggu seorang wanita berwajah Asia yang cantik sekali—Charmélle terdiam memandang wajah wanita itu selama beberapa detik hingga akhirnya tersadar, kemudian ia pun memesan barang-barang yang dibutuhkannya.

“Paket siswa kelas satu beserta bahan ramuannya, terima kasih.”

0 comments: