Greetings

Hello. My name is Tchi and this blog’s mine. I don’t write my own story here. I write about my RPG characters and Binjai Kingdom’s funny stories. Click here to read ‘my real stories’.

RPG Characters

RPG Characters

Wednesday, April 21, 2010

Geneva Liblrairie, 2001

Umm—yeah. Carmélle mengakui kalau toko buku ini benar-benar dipenuhi buku. Sebelumnya ia menganggap bahwa rumahnyalah yang paling penuh dengan buku dibandingkan seluruh tempat di dunia, karena ia punya satu ruangan ‘untuk membaca’ yang ukurannya tiga kali lebih besar daripada kamarnya; dan ruangan itu, sesuai namanya, punya kira-kira lima ribu buku. Lemari-lemari dengan puncak menyentuh langit-langit ada di tiap sisi, artinya ada empat lemari, dan ditambah ‘lemari sebagai sekat’ di tengah ruangan, dua buah, tingginya memang hanya separo dari lemari di tiap sisi, tapi bukunya paling padat. Semua milik ibunya yang cerdas. Baik buku-buku yang sebesar daun jendela maupun buku yang sepanjang jari telunjuk. Dari buku setebal kain sutra hingga setebal dua buah bantal ditumpuk.

Jadi, melihat tempat yang lebih besar dari ruang membacanya membuat gadis belia itu sedikit terbeliak. Ia memutar kepala, membuat rambut coklat bergelombangnya menari-nari, melihat-lihat seraya berkomentar dalam hati. Kebanyakan buku di sana sama dengan miliknya—atau ibunya—di rumah, seperti Mantra 1001 et son utilization, Dancing on the Star Ocean, dan Étudier les arts foncé avec en santé. Bahkan ia pernah membaca Apprenez des Muggle, buku yang ada di rak yang terdekat dari posisinya saat itu, berhubung ibunya sangat tertarik akan Muggle dan mengambil kelas pelajaran Muggle di sekolahnya dulu, Hogwarts. Mau tidak mau Carmélle tertarik juga dengan makhluk yang secara fisik sama seperti kaumnya; memiliki mata, hidung, bisa berjalan—namun sangat berbeda dalam banyak hal. Oh, ia lupa bertanya pada ayahnya apakah di Beauxbatons ada pelajaran tentang Muggle juga.

Gadis itu berjalan santai mendekati meja terdepan, berniat memesan set buku tahun pertama saja. Tentu saja bukan karena ia tidak suka membaca, melainkan karena ia yakin kedua orang tuanya memiliki buku referensi sebaik yang ada di toko ini. Lagipula, prinsip terbaru Carmélle adalah ‘tak perlu menghabiskan uang untuk membeli buku kalau ada baju keluaran terbaru’. Maka dengan senyum sopan merekah di wajah putih pucatnya, ia berkata,

“Aku pesan satu set buku tahun pertama, terima kasih.”

Setelah berkata demikian, gadis berpostur tinggi itu mengeluarkan puluhan keping Galleon dari tas hitam kecil yang bergantung di bahunya, dan berdoa semoga masih ada uang sisa untuk membeli baju baru, atau es krim dan cake.

0 comments: