Greetings

Hello. My name is Tchi and this blog’s mine. I don’t write my own story here. I write about my RPG characters and Binjai Kingdom’s funny stories. Click here to read ‘my real stories’.

RPG Characters

RPG Characters

Monday, April 19, 2010

Magasin de Robe, 2001

Gadis muda manis bernama Carmélle Ghyslain berjalan riang menuju toko pakaian setelah meminta sejumlah uang yang cukup banyak kepada ibunya. Ia tidak ingin ditemani ibunya dalam membeli pakaian. Siapa tahu ada gaun atau aksesori yang disukainya tapi ia tidak diizinkan untuk membeli? Uh, Carmélle sebal sekali kalau begitu kejadiannya. Jadi ia memutuskan untuk berbelanja sendiri saja. Lagipula seleranya dengan sang ibu sering bertabrakan karena ibunya sangat sangat suka warna abu-abu, sementara ia tidak.

Dengan tongkat baru yang tak sedetik pun dibiarkan lepas dari tangan kirinya, Carmélle memasuki toko pakaian. Sebenarnya tangan pemegang tongkatnya adalah tangan kanan, akan tetapi gadis belia itu tahu bahwa ia membutuhkan tangan pembawa bebannya untuk membawa bungkusan berisi seragam yang akan dibelinya. Sedangkan untuk meletakkan tongkatnya dan menjinjing barang belanjaannya dengan kedua tangan, ia tidak mau. Tongkatnya terlalu sayang untuk diletakkan. Benda itu bagus sekali, tahu. Juga cocok untuk dirinya. Ya, sama seperti penyihir lain menganggap tongkat mereka masing-masing yang paling bagus.

Di sudut-sudutnya berdiri manekin-manekin berbentuk wanita tinggi langsing dengan tubuh proporsional, dan licin. Tentu saja licin, mereka kan sama saja dengan patung. Carmélle mendekati manekin tersebut, terkagum-kagum melihat lingerie merah terang yang dikenakannya. Gadis itu tersenyum melihatnya dan serta-merta benaknya berceloteh, seandainya aku sudah dewasa dan bisa memakai pakaian itu! Aku harus mengajak Maman membelinya untuk persediaan saat aku dewasa! Setelah puas mengagumi manekin cantik itu, ia menuju ke arah pemilik—atau pegawai?—toko.

Sebelum memesan ia terlebih dulu melihat-lihat sekeliling, berdecak ketika sepasang bola mata coklat gelapnya tergoda oleh pakaian-pakaian menawan di sana, beberapa detik kemudian tersadar kalau ia masih dua belas tahun, bisa-bisa Papa mengurungnya di gudang nanti kalau berani membelinya. Akhirnya ia menemukan satu-dua barang lain yang bisa dibelinya selain seragam sekolah. Yup, hanya dua—ups, tiga. Carmélle bukan shopaholic, melainkan fashionista. Yang artinya, ia akan menurut kalau dilarang membeli terlalu banyak pakaian, namun ia mewajibkan diri untuk membeli pakaian model terbaru. Carmélle berhemat, tentu saja, toh nanti di sekolah paling ia mengenakan seragam setiap hari. Kategori hemat menurut persepsinya memang berbeda dengan kebanyakan orang biasa; semua orang menganggap gadis belia itu sangat boros. Tapi kali ini masih banyak uang sisa dari ibunya, yang akan dihabiskannya beberapa saat lagi di toko es krim.

“Satu stel seragam sekolah Beauxbatons untuk perempuan, satu rok motif tartan di sana, satu jaket motif garis horizontal itu, ukurannya yang M, dan belt pink yang itu. Merci.”* Ia berkata dengan tangan menunjuk benda-benda yang disebutkannya. Ia menunggu pesanannya dengan sabar. Justru ia merasa cukup senang, sebetulnya. Gadis berambut coklat itu suka berada di toko pakaian.

“Ngomong-ngomong, toko ini bagus sekali. Aku suka.” Ucapnya ramah pada pemilik toko, sementara di wajahnya terlukis seulas senyum polos yang manis.

0 comments: