Greetings

Hello. My name is Tchi and this blog’s mine. I don’t write my own story here. I write about my RPG characters and Binjai Kingdom’s funny stories. Click here to read ‘my real stories’.

RPG Characters

RPG Characters

Monday, April 19, 2010

Magasin de Baguette, 2001

Setelah mengambil sejumlah uang, Carmélle serta ibunya beralih menuju toko tongkat—alat paling vital dalam dunia sihir. Bahkan, ayahnya pernah berkata, tongkat lebih dari sekedar ‘alat’, melainkan sudah menyatu dalam diri setiap penyihir yang memilikinya. Terlebih, umumnya, satu penyihir hanya memiliki satu tongkat sihir dan tidak berganti-ganti tongkat, kecuali jika terjadi kerusakan parah, seperti tongkat patah, atau dicuri. Yang terakhir ini jarang terjadi, pencurian tongkat. Entah dengan cara bagaimana, para penyihir kebanyakan merasa puas dengan tongkat yang mereka miliki. Waktu kecil Maman suka mendongenginya tentang tongkat elder, tongkat terhebat sepanjang masa, tapi Beliau juga bilang, sehebat apapun tongkat itu, tongkat kita sendirilah yang paling cocok dengan diri kita.

Ngomong-ngomong soal tongkat, ehm, ada satu hal yang sejak tadi ingin dibicarakan Carmélle dengan ibunya. Maka gadis itu pun menyebut panggilan untuk ibunya untuk mendapat perhatian, lalu berbisik pelan, berusaha supaya tidak didengar orang lain, “Maman, boleh aku sendiri saja yang membeli tongkat? Tidak usah ditemani.” Wajahnya memerah seiring barisan kata-katanya. Dahi ibunya sedikit mengerut, pertanda menuntut jawaban dari pertanyaan berawal kata ‘mengapa’. Gadis belia berambut coklat itu nyengir. Mana bisa ia bilang, kalau sebetulnya ia malu melihat banyak penyihir seusianya membeli tongkat sendiri, sementara seorang Carmélle dibelikan? Dengan cepat ia pun bersilat lidah.

“Hanya tidak mau menyusahkanmu, Maman.”—dengan dua jari menyilang di belakang punggung. Ibunya tersenyum lembut, kemudian memberikan sebuah persetujuan sambil menyerahkan sejumlah uang. Gadis itu pun bergegas masuk ke dalam toko.

[di dalam toko tongkat]

Carmélle menjelajah isi toko itu tepat setelah menginjakkan kakinya di sana. Beberapa lemari besaaar menjadi objek utama sejauh mata memandang. Ada yang berada di pinggir toko, menutupi dinding-dindingnya, ada juga yang tidak. Lemari itu tidak kosong, tentu saja, melainkan terisi ribuan kotak, yang siapapun tahu pastilah berisi tongkat-tongkat yang akan dijual. Humm… kira-kira dari entah-berapa-tongkat yang tersedia di toko itu, manakah yang akan menjadi milik nona kecil Ghyslain itu?

Ia mendekati sudut ruangan dimana sudah berdiri seorang laki-laki dewasa, pemilik tokonya barangkali, dan seorang pemuda yang sepertinya usianya hanya beberapa tahun lebih tua daripada Carmélle sendiri. Anak laki-laki itukah? Atau hanya pegawainya? Entahlah, toh ia juga tidak berminat mencari tahu. Gadis bersurai coklat itu mendekati keduanya kemudian mengeluarkan barisan kalimat ringkas.

“Saya Carmélle Ghyslain, lahir 20 Januari.”

Saku jaket coklat Carmélle yang menggelembung terisi penuh dengan Galleon yang sebetulnya mudah sekali untuk dicuri orang. Namun gadis kecil itu tak sadar dan hanya menunggu, berusaha menahan diri untuk tidak menarik tangan pegawai toko dan menyuruhnya segera mengambilkan tongkat. Itu tidak sopan, kan?

0 comments: