Putih—klasik. Tapi Carmélle tidak suka. Gadis belia yang baru saja berumur dua belas tahun itu menatap datar pada bangunan bercat putih kokoh yang menjulang di tempat perbelanjaan Carré Rose tersebut. Mata coklat gelapnya menelaah setiap sudut luar bank itu. Satu kesimpulan tertanam di benaknya: tempat yang besar, namun terasa sepi. Tak seperti suasana ramai di sekelilingnya—toko es krim, café, toko buku, toko tongkat, yang penuh sesak oleh penyihir-penyihir seusianya yang tengah berbelanja. Karena itu ia tak pernah sekalipun ikut apabila ibunya mengajaknya mengambil uang. Entah kenapa, hari ini ibunya menyuruhnya ikut serta. Biar nanti bisa mengambil uang sendiri, katanya. Huh. Carmélle yakin ia lebih suka minta uang langsung kepada Papa atau Maman daripada pergi ke bank.
“Maman,” ia menarik lengan ibunya yang sedari tadi berdiri di sampingnya. Ibunya menoleh dan menunduk untuk menemukan manik matanya. Sepasang alis ibunya naik ke atas, maka tanpa menunggu sepatah kata dari wanita cantik tersebut, Carmélle melanjutkan kata-katanya. “Kenapa kita harus mengambil uang dulu? Kenapa tidak langsung berbelanja?” ia bertanya dengan ekspresi kesal. Sejak tadi ia berkali-kali melirik toko es krim—polos. Tingkahnya membuat sang ibu tertawa kecil.
“Bagaimana kita bisa berbelanja kalau tidak bawa uang?” pertanyaan balik dari wanita bermata keemasan tersebut berhasil membungkam celotehan Carmélle. Ibunya membuka pintu bertuliskan ‘open’ kemudian mereka berdua pun masuk ke satu-satunya bank di Carré Rose itu. Carmélle memutar kepala, mengobservasi tempat keluarganya, serta banyak keluarga penyihir lain, menyimpan uang. Dahinya sedikit mengernyit karena ternyata tempat itu tidak seburuk yang ia duga. Di dalam toko itu sudah berdiri penyihir yang akan melayani mereka. Oh, setidaknya pegawai bank-nya manusia. Gadis kecil itu mendengar cerita ibunya yang dahulu tinggal di Inggris, bahwa pegawai bank di sana adalah goblin. Ia pernah bertemu makhluk itu tiga kali dan berdoa sepenuh hati agar tidak terjadi yang keempat kali.
“Sekarang, mintalah uang tiga ratus Galleon. Nomor brankas kita 2025. Katakan itu pada pegawainya, dan berikan kuncinya,” bisik ibunya. Carmélle mengernyitkan dahi. Apa? Kenapa dia yang disuruh? Ia hendak memprotes, tapi tatapan janggal dari wanita menarik yang sudah melahirkannya itu—Carmélle dan Papa suka menyebutnya tatapan menyihir—membuatnya lagi-lagi hanya bisa menurut. Diserahkannya kunci brankas keluarganya, keluarga Ghyslain, pada pegawai tersebut.
“Brankas keluarga Ghyslain nomor 2025. Ambil uang 300 galleon.”
Sudah, kan? Gadis kecil itu menarik napas lega, merasa sudah menyelesaikan tugasnya, namun tiba-tiba teringat sesuatu kemudian menambahi kata-katanya, “Terima kasih.”
Ternyata tidak begitu sulit berbicara dengan orang asing yang lebih tua, pikirnya dalam hati. Ia tak keberatan kalau nanti disuruh berbelanja sendiri, lagipula Carmélle kan sudah dua belas tahun. Sudah besar.
Monday, April 19, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment