BINJAI KINGDOM
Judul : Senasib Sepenanggungan
Sudut Pandang : Aldhi
Betapa malang nasibku... semenjak ditinggal Umi...
...jangan histeris dulu. Istriku belum mati. Hanya sedang terbaring di kamar RS ABC.
Aku menghela napas keibuan, kemudian pergi keluar dari wilayah rumah sakit, meninggalkan ruang administrasi di belakangku, beserta susternya yang ngamuk-ngamuk karena tagihan perawatan kubayar dengan lemak onta. Aku yakin suster itu tidak tamat sekolah, karena seharusnya ia tahu lemak onta banyak gunanya, untuk memperlancar buang angin atau melenturkan kuping.
Di luar RS, bau apek dan suara bising menjelajah pendengaranku seperti getaran dan gelombang. Bau apek itu berasal dari bapak-bapak disebelahku yang sedang mengipasi keteknya, dan suara bising itu adalah nyanyian pengamen bertampang preman. Aku semakin depresi dibuatnya. Kaki-kakiku yang bersih dari bulu habis cukuran melangkah ke taman kota tempatku biasa mangkal. Aku mengangkat tangan untuk melihat jam. Jam gambaran, tentu. 2.30. Masih lama sebelum waktuku berubah ala Wonder Woman, jadi aku datang ke taman sebagai laki-laki ksatria bernama Aldhi.
“TIIIIN!!!!”
Aku yang sedang menyebrang seketika terlompat ke pinggir jalan, ketakutan. Aku kira itu suara klakson mobil Mercedes. Ternyata bukan, hanya ada becak yang dimodifikasi dengan kembang 7 rupa dan angkot kuning ngejreng berlampu merah karena iritasi yang berlalu lalang. Jadi itu tadi suara apa? Tanyaku pada diri sendiri, bingung.
“ENTIIIIINNNNN!!!!!!!!!”
Teriakan itu terdengar lagi. Rupanya ada seorang ibu-ibu berwujud bola (atau bola berwujud ibu-ibu, entah mana yang benar) memanggil anaknya yang bernama Entin. Aku memutar kepala 180 derajat mirip cacing kremi, dan melihat sosok Entin yang dipanggil memanjat patung di tengah taman dengan baju terbuka mirip suku pedalaman. Astaga! Jangan-jangan dia mau bunuh diri? Aku berlari ke arahnya dan ikut-ikutan memanggil dari bawah.
“Apaan seh? Gue lagi ngangkat jemuran!” sahutnya sambil mengibaskan rambutnya yang menjuntai-juntai, menerbangkan kutu, ketombe, dan uban dari berbagai arah. Aku berusaha menghindarinya sebisa mungkin. Aku tak punya uang lagi untuk membeli sampo. Sudah dua minggu ini rambutku kucuci dengan sabun cuci piring.
Baru kusadari tangan kanan gadis itu mencabut berbagai jenis pakaian luar dan dalam yang awalnya kukira mahkota si patung, sedangkan tangan kirinya yang berkilauan indah penuh minyak kelapa doger memegang radio soak. Kutajamkan pendengaranku, dan terdengar lagu Arab-Keroncong dari radio. Aaah. Lagu kenangan. Sepanjangg... jembatan baruuuu...
“WATCH OUT!” sebuah jeritan dari atas memperingatkanku, tapi terlambat. Sesuatu yang seberat mamak mamak mamaknya gajah menimpaku. Si Entin itu terjun payung tanpa pelampung.
“Ups, sori dori.” Katanya sambil bangkit, dan pergi tanpa peduli encokku kambuh. Oh no, bagaimana aku bisa mangkal nanti malam??? Aku bangun tertatih-tatih dan duduk di pinggir taman. Terasa ada yang hangat dan nyaman di bawahku. Enaknya...
Karena sudah pewe, aku pun bisa konsentrasi meriplei kejadian semalam. Seluruh anggota keluargaku bermain sembunyi-sembunyian, tak peduli tua-muda segar-keriput es cendol-es puter. Ibuku yang mencarinya. Semua orang sudah ditemukan, kecuali istriku managerku itu. Aku bangga padanya karena ia bisa bersembunyi dengan cerdik. Sampai lewat tengah malam yang ditandai suara jangkrik main kelereng, Della tidak ditemukan. Kami memutuskan untuk tidur, ketika tiba-tiba terdengar dendang merdu merintih dari kamar Pessiah dan Adyth. Ternyata Della sembunyi di balik kasur dan ditimpa oleh 5 orang itu: Pessiah, Adyth, serta 3 anak mereka Intan, Yolan, dan Nyny. Alhasil, tulang pembokerannya retak dan ia dilarikan ke RS ABC. Sungguh, tak sanggup aku melihat deritanya, aku mengkhawatirkan keadaannya...
“Mmm... Mbak?”
Aku mendongak, dan bertemu pandang dengan si buta dari gua hantu, eh, maksudku orang bertubuh kekar berwajah sangar berhidung melar bernama Omar, kulihat cap namanya di kening. Siapa dia? Rentenir? Pegawai kreditan? Seharusnya ia menagih ke adikku Dina, dia yang suka mengkredit barang. Btw, tadi dia memanggilku Mbak? Aku mengelus dagu dan mendapati sedikit jenggot. Aku masih pakai celana kok, bukan rok. Celana legging sih. Tapi masa dia sudah mengira aku sebagai Aldha? Siang bolong ini, pasti si Omar katarak.
“Yo yo, what’s wrong, man?” sahutku sok akrab dalam bahasa Betawi yang kupelajari dari mantan istri pertamaku Dwi. Dalam hati aku berdoa semoga dia tidak macam-macam. Aku tidak mau terzolimi dan teraniaya. Aku masih suci...
“Anu Mbak... bisa, emm... berdiri?”
Seketika aku naik pitam. Apa dia tidak lihat mataku yang merem melek dan punggungku yang encok melincok ini? Itu artinya aku sedang susah berdiri, dodol!
“Eh, nggak bisa! Enak aja! Udah pewe nih!” teriakku sewot.
“Tapi Mbak...” si Omar menahan napas takut, sehingga terlihat bulu hidungnya bergetar. “Yang Mbak dudukin itu bekas boker anak saya...”
Rahangku pun jatuh ke bawah beserta gigi dan jigongnya. Aku syok dan buru-buru berdiri, kemudian mendapati tempat dudukku itu beralaskan cairan kental hampir padat 7 warna mejikuhibiniu dan mengeluarkan bau khas familiar: bau saat aku sekeluarga habis BAB berjamaah di sungai ogan. Aku pun muntah-muntah jijik tepat di kotoran itu, sehingga warnanya jadi mejikuhibiniuhitamabuabucoklatsilverqueen. Ups, bukan coklat silverqueen, tapi coklat ayam biasa, cemilanku tadi pagi. Tubuhku langsung mengeluarkan keringat dingin, hasil fermentasi keju dan tahu basi. Encokku semakin menjadi, dan alergi stresku kambuh. Kepalaku rasanya berputar-putar dikelilingi ikan maskoki. Aku pun jatuh tak sadarkan diri di pelukan si Omar.
-beberapa jam kemudian-
Aku tersadar. Bukan oleh bau alkohol atau minyak kayu putih, tapi wangi parfum dari planet Uranus, oleh-oleh Tchi saat pulang dari playgroupnya di luar bumi. Kalau diibaratkan wangi di bumi, parfum itu mirip seperti sampah basah di dasar got yang membusuk selama 7 tahun. Pekat, nikmat.
“ABIII!!!” teriakan dan pelukan langsung meremukkan tulang-tulangku. Ambar.
“Dimana aku?” tanyaku, menengok ke kanan. Semua putih.
“Di RS ABC, Bi. Jangan liat kanan tapi liat kiri!” perintahnya. Aku pun menengok ke kiri, dan ternyata... di sebelahku terbaring Della, Della yang kucinta. Oh, indahnya. Kami masuk rumah sakit bersama.
“Aldhi...” bisik Della dengan mata berkaca-kaca.
“Ya?” sahutku mesra.
“GIMANA BAYAR DUIT BEROBATNYA KALO KAMU NGGAK KERJA???” Della menjerit sampai seluruh dunia bergoyang. Ia langsung loncat dari tempat tidur, mencabut seluruh infusnya, dan menerjangku sekuat tenaga. Aku jatuh ke lantai, gusiku berdarah karena sikat gigi tanpa Pepsodent. Smack down dimulai.
“ABI! UMI! ABI! UMI!” Pessiah dan Ambar malah sibuk menyoraki. Aku berdehem.
“Tenang, akan kukeluarkan jurus pamungkasku!”
Maka aku pun berbalik dan menungging ke arahnya dengan segenap jiwa raga. Kurasakan power Della berkurang drastis, sementara energiku meningkat. Semenit kemudian, Della pun ambruk dan langsung digotong kembali ke tempat tidurnya di sampingku.
“Pemenangnya, ABIIIII!!!” Pessiah bersorak. Aku mengangkat tangan layaknya juara sejati, kemudian naik kembali ke tempat tidurku. Aku ingin menemaninya di rumah sakit. Karena kami adalah suami-istri yang selalu senasib sepenanggungan.
Saturday, April 10, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment