Greetings

Hello. My name is Tchi and this blog’s mine. I don’t write my own story here. I write about my RPG characters and Binjai Kingdom’s funny stories. Click here to read ‘my real stories’.

RPG Characters

RPG Characters

Sunday, May 02, 2010

PAT 2, 2001

Carmélle mengulum senyum, agak puas pada diri sendiri. Tak perlu waktu lama bagi orang-orang untuk membantunya, tentu. Ia bersyukur karena dikaruniai wajah mirip dengan ibunya yang cantik—bukannya ia merasa cantik, sih. Gadis dua belas tahun itu tidak suka menyombongkan diri. Ngomong-ngomong, yang merespon pertanyaannya pertama kali adalah seorang murid kelas satu juga, yang tadi diseleksi duluan sebelum Carmélle. Ia lupa siapa nama pemuda itu, tapi kalau tak salah dia diseleksi masuk Sournois.

Berteman dengan rekan lain asrama juga tak masalah.

"Yang itu, eh?"

Tangan pemuda itu menunjuk meja dengan mantel sewarna lembayung di atasnya. Gadis penyuka cat kuku itu mengikuti arah tunjukannya, dan memasang ekspresi setuju campur berterima kasih yang dibuat senatural mungkin. Ah, tepat sekali. Ia mengangguk membenarkan, seraya membungkuk hormat. Sekarang percakapan bisa dimulai dengan lebih mudah—

"Yang ini, hm?"

Mantelnya terangkat berlatar langit malam namun hangat. Seorang pemuda lain memegangnya, jaraknya dengan Carmélle tak begitu jauh sehingga suaranya masih dapat terdengar di keriuhan pesta. Gadis itu cepat-cepat mengangguk membenarkan.

“Terima kasih banyak.” Ucapnya pada pemuda yang ‘menemukan’ mantelnya, kemudian ia berjalan mendekati pemuda satunya yang memegang mantelnya. Diambilnya mantel tersebut dan disampirkannya di tangannya sendiri. “Terima kasih banyak… Senior.” Lanjutnya sopan, serta yakin kalau orang yang berada dihadapannya adalah senior, karena ia tak melihatnya ikut berbaris saat upacara seleksi.

Jadi, sekarang bagaimana? Ia tetap berdiri di samping senior tersebut, atau kembali ke tempatnya semula tadi? Kira-kira yang mana diantara keduanya yang mau mengajaknya berdansa? Atau ia beralih ke tempat lain saja? Carmélle memutar kepala, menatap sekeliling, ragu. Namun sepasang mata coklat terangnya tiba-tiba mendapati pemandangan yang lucu. Seorang pemuda tengah berdansa sendirian, tampak asyik. Tanpa bisa dicegah, ia tertawa. Tawa kecil, bukan tawa lebar seperti orang tak tahu aturan; namun tetap saja sikapnya tersebut merupakan reaksi karena ia merasa geli.

“Senior—siapa itu, yang sedang menari itu?” tanyanya pada sang senior berambut hitam dan berwajah tirus itu, seraya mengendikkan kepala mengarah pada seseorang yang masih berdansa sendirian*. Mungkin orang itu mau diajak berdansa bersama? Coba saja nanti ia dekati.

0 comments: