"--dan terima kasih senior. Sepertinya, hari ini buruk, ya?"
Gadis junior itu seratus persen benar. Hari itu sangat buruk, lebih buruk dari hari apapun yang pernah ada—karena sebelumnya ia tak pernah peduli pada hari. Ia mendesah, kemudian berdiri diam di samping kedua juniornya itu. Membiarkan dirinya hanyut sendiri dalam lingkup benak yang khusus menyelubungi diri, tanpa orang lain, bahkan tanpa sehelai ilalang pun.
Sepasang mata gelapnya membuka, namun tatapannya tak ada disana. Sudah berlari demikian jauh menembus tembok-tembok kokoh kastil, mengkhayalkan, padahal demi Merlin seumur hidup ia belum pernah berkhayal; perbuatan konyol yang sia-sia saja, semua itu. Entah mengapa sekarang dilakukannya. Apa karena terlalu runyam perasaan dalam hatinya? Apa karena semakin lebar jarak entitasnya dengan sebuah profil jati diri?
Kalau boleh, sekali itu ingin ia meninggalkan raga. Biarlah menjadi seonggok tubuh tanpa nyawa.
Namun yang terjadi sebaliknya; entah bagaimana riil kehidupan menariknya dari lamunan panjang, dan mata tajamnya mengerjam beberapa kali, bingung, ketika mendapati ternyata sudah ramai orang membaur dengan mereka. Tiga orang junior, laki-laki. Diliriknya dua orang gadis di sebelahnya. Tiga, dengan dirinya. Maksudnya… apa? Sungguh, mereka berenam tampak seperti sedang mengadakan acara berpasang-pasangan, terlebih bagi orang yang tak tahu kalau kelompok baru itu diselubungi kesedihan.
Apa kata pemuda itu jika melihatnya begini?
—demimerlinreonbelummauputus.
"Terima kasih atas perhatiannya, semua. Namun, mungkin masalah ini tidak terlalu penting bagi kalian. Jadi, terima kasih perhatiannya semua!"
Mendengar suara bernada kuat namun meragukan itu, dengan cepat gadis empat belas tahun itu menatap junior Slytherin yang pertama disapanya barusan, mengamati ekspresinya barang sedetik; sepertinya kesedihan itu sudah berkurang. Tadi Reon hanya ingin menghiburnya, memastikan kalau udara tak perlu dicemari lara lagi selain olehnya. Kalau gadis itu sudah baikan, ada baiknya ia segera pergi.
“Ehm… kau benar-benar sudah merasa lebih baik? Jangan memaksakan diri untuk bersikap tegar.”
Nasehat macam apa itu, batinnya mengeluh. Munafik. Sok bijak, padahal dirinya sendiri bersikap demikian...
Sunday, May 02, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment