Greetings

Hello. My name is Tchi and this blog’s mine. I don’t write my own story here. I write about my RPG characters and Binjai Kingdom’s funny stories. Click here to read ‘my real stories’.

RPG Characters

RPG Characters

Sunday, May 02, 2010

Halaman, "Stage 1: Observation"

Langkah demi langkah berirama menjadi penanda kedatangan Lyssie dalam sebuah acara teruntuk gadis serta pemuda bernaungkan asrama biru bernapaskan kecerdasan. Banyak orang sudah berkumpul, mengelilingi sebuah podium dimana di atasnya sosok junior yang ia kenali identitasnya; Ridgett, tengah menanti kedatangan rekan sejawat. Tak jauh darinya, Kepala Asrama Ravenclaw sendiri, dengan kharisma tambah wibawa yang tak terselubung oleh fisik mungilnya.

Reseptornya mengidentifikasi, tanpa bermain dengan otak terlebih dahulu, menghasilkan sebuah gerak refleks, menunduk. Lyssie menundukkan kepalanya sekedar untuk memberi hormat, meski masih ada jarak diantara dirinya dan sang guru. Gadis itu tidak merasa konyol, sebab tindak-tanduk penuh rasa sopan telah disuntikkan dalam nadinya sejak kecil. Lagipula sedikit banyak kebiasaan sudah mendahului inderanya.

Sepasang kelereng coklat dara lima belas tahun tersebut bergulir kembali pada pemuda di atas podium yang telah memulai tarian kalimatnya. Tanpa basa-basi seperti kebanyakan orang bermulut besar—well, para elang tidak membutuhkan cangkok rayu, tentu. Semacam tugas diberikan kepada junior baru untuk menciptakan sebuah persembahan kepada para Prefek atau guru dalam bentuk barisan kalimat-kalimat syahdu, atau mungkin halus mendayu. Gadis lima belas tahun itu tersenyum tipis, menahan gelora geli yang dalam sekejap melandanya. Pasti menyenangkan mendengarkan bait demi bait puisi karya para murid kelas satu. Tapi tentu saja karya mereka akan menarik, karena begitulah seharusnya Ravenclaw, eh?

Belum lagi ditambahnya jejak dua langkah, terdengar suara dari sisi sebelah kiri.

"Ehm... ada yang tahu kak Light Heinrich itu yang mana?"

Oh, dear. Lyssie mendesah, sedikit heran karena ketidaktahuan sang junior, namun sedetik kemudian maklum. Mereka masih baru. Selain itu yang menuntun mereka ke Menara Ravenclaw pada hari pertama adalah Prefek tahun kelima, bukan keenam.

Seulas senyum mempesona menjadi hias rautnya, diiringi sebuah jawaban dalam balutan suara sopran, “Prefek Heinrich itu yang berambut coklat kehitaman, cukup tinggi, sekitar seratus tujuh puluh senti, dan heterochromia—satu iris matanya merah, dan satunya lagi…”

Berhenti sejenak, mengingat-ingat—Lyssie sendiri bukanlah teman bergaul sang senior; setiap murid memiliki kesibukan masing-masing, hingga jarang berinteraksi di luar kelas, dan… ya, tanpa makan waktu sekelebat ingatan gadis berdarah Belanda itu pun kembali.

“…biru. Kau pasti bisa menemukannya.”

Sedikit menyemangati. Ia tidak minta bayaran. Belum.

0 comments: