Greetings

Hello. My name is Tchi and this blog’s mine. I don’t write my own story here. I write about my RPG characters and Binjai Kingdom’s funny stories. Click here to read ‘my real stories’.

RPG Characters

RPG Characters

Tuesday, May 04, 2010

PTIH 5, 87-88

Begitu mengetahui bahwa pelajaran PTIH di Aula Besar, gadis yang berusia genap lima belas tahun pada bulan Februari itu langsung menyimpulkan bahwa akan ada banyak gerakan yang dipraktekan di kelas, bukan sekedar membuka buku lalu menghapal nama mantra, ramuan, atau makhluk ilmu hitam saja. Sedikit gairah menjelajari tubuhnya—sepertinya pelajaran kali ini akan lebih menarik.

Ia bergegas meninggalkan menaranya dan menuruni tangga demi tangga hingga mencapai lantai dasar. Dengan cepat ia membaurkan diri bersama siswa-siswi tahun OWL lainnya di tempat tersebut. Sepasang mata keemasannya terpaku pada sosok guru di depan kelas, yang baru mengajar di tahun kelimanya tersebut. Entah bagaimana bisa guru PTIH selalu berganti tiap tahunnya; sedikit banyak telinga Lyssie telah mendengar tentang isu kutukan pada mata pelajaran itu. Sungguh tidak realistis.

“Lihat lingkaran besar di bawah kaki kalian? Aku ingin dua orang berdiri di setiap satu lingkaran,”

Gadis berdarah Belanda itu merunduk, mendapati sudah ada lingkaran-lingkaran berukuran sangat besar menghias lantai. Sangat besar untuk satu orang, namun sepertinya tidak berlebihan apabila dijadikan tempat berdiri dua orang anak. Lyssie mendesah kemudian memandang sekeliling. Ia tentu saja hanya satu. Sesuai titah, ia akan membutuhkan satu orang lagi untuk mengisi satu lingkaran.

“Aku ingin kalian menyerang satu sama lain—dan bertahan, dalam masing-masing kubah. Berhasil mendorong lawannya keluar dari dalam kubah, bonus 50 poin untuk asramanya. Terdorong keluar dari dalam kubah, minus 50 poin. Membuat lawan luka parah, minus 50 poin. Membuat dirimu sendiri luka parah, minus 50 poin—aku mengharapkan duel sihir yang cerdas, cantik, dan tidak sebentar dari kalian. Nah, tunggu apa lagi?”

Lyssie sedikit tersentak mendengar rentetan kalimat penuh kata ‘lima puluh’, ‘poin’ dan ‘minus’. Profesor satu ini suka memotong poin, rupanya. Dengan bergegas maniknya mencari, menyorotkan pandangan terhadap satu per satu wajah familiar di dalam Aula Besar, ketika tiba-tiba terdengar suara akrab yang mengundang. Ia berbalik dan menemukan seraut wajah gadis Hufflepuff sahabatnya, Nazkhaya. Senyum menghias wajahnya. Kemudian dengan isyarat tangan diajaknya gadis rambut pirang itu ke lingkaran terdekat.

“Ayo mulai. Supaya adil, hitungan ketiga, bersama-sama.”

Ia mulai menghitung dalam hati. Satu, dua, tiga…

“Incarcerous!”

0 comments: