Greetings

Hello. My name is Tchi and this blog’s mine. I don’t write my own story here. I write about my RPG characters and Binjai Kingdom’s funny stories. Click here to read ‘my real stories’.

RPG Characters

RPG Characters

Friday, May 07, 2010

[Detensi], 87-88

Reon dapat detensi. Lihat itu. Evenna Vareon mendapatkan detensi kali pertamanya. Ia tidak kecewa, tidak heran, hanya… malas. Keluar dari ruang bawah tanahnya saja sudah enggan sekali, apalagi harus menjalani detensi dari Profesor Pavarell yang terhormat—hiperbolis. Hanya saja kalau tidak mau mengikuti detensi, poin asramanya akan dipotong. Gadis empat belas tahun itu bukanlah penjunjung kehormatan universal, asrama baginya hanya sebuah identitas penjelas, namun demi menghindari caci maki dari rekan seasramanya atas sikap sok hebat di kelas PTIH, maka ia pun sekarang berdiri di toilet rusak di lantai dua.

Sebetulnya, siapa sih yang peduli ia dapat detensi atau tidak?

Hanya unicorn di Hutan Terlarang sana, barangkali. Gadis berambut hitam dikuncir kuda itu separo duduk, dengan tubuh bertopang pada lutut, memegang sikat gigi di tangan kanannya, serta pembersih di tangan kiri. Hukuman yang sungguh hebat; membersihkan toilet dengan cara Muggle. Toilet yang sudah tak terpakai. Reon menghela napas menyadari bahwa sang guru membabukan mereka demi Myrtle Merana. Tangannya mulai menekankan sikat gigi pada permukaan lantai, menggosoknya sekuat tenaga, membayangkan kalau ubin berlumut itu seseorang yang sangat dibencinya.

Sedikit demi sedikit gadis itu dapat mengikuti pembicaraan siswa-siswi lain, meskipun ia tidak bergabung dalam topik apapun yang mereka bahas. Posisinya tak jauh dari mereka, tentu. Seorang rekan seasramanya, Asgardr, mengucapkan selamat ulang tahun kepada Weasley. Rupanya pemuda satu itu ulang tahun, toh…

—tunggu, dia kan yang dapat detensi karena ‘bertindak heroik’ mengiyakan jawaban Reon? Fuh. Artinya gadis bersuara bening itu ikut andil dalam pemberian detensi atas murid Gryffindor itu? Refleks Reon meliriknya sekilas. Terlihat biasa saja, tidak menangis apalagi meraung berguling-guling seperti adik Muggle-nya di rumah. Jadi, haruskah Reon menyapanya? Atau biarkan saja? Biarlah ubin berlumut yang menjawabnya.

0 comments: