Tahun keduanya—untuk kelas Arithmancy.
Setelah melewati tahun pertama, gadis muda yang tidak memiliki wajah seperti orang Eropa pada umumnya, karena sebenarnya dia memang bukan, merasa bahwa pelajaran tersebut, meramal lewat angka, semakin lama semakin mirip dengan pelajaran Muggle bertitel Matematika daripada salah satu cabang sihir. Dan itu membuatnya… tidak bosan, hanya enggan. Ia tidak suka mengingat apapun yang berhubungan dengan dunia non penyihir itu.
Dunia Muggle memiliki terlalu banyak ketidakcocokan terhadap dirinya.
Well, seperti biasa, gadis bernama Evenna Vareon itu melangkah ringan tanpa suara di belakang anak-anak lainnya memasuki kelas yang mana pintunya telah dibiarkan terbuka, pertanda ‘kebaikan’ sang guru. Tsk. Sayang sekali Profesor Vector tidak tahu kalau sikap murah hatinya itu malah membuat murid-murid semakin malas, seperti anak kecil yang seenaknya bermain seharian karena tahu makanan di rumah tetap tersedia untuknya, kapanpun dia kembali. Namun bagaimanapun Reon mengkritisi kasus pintu terbuka ini, toh ia sama sekali tak memiliki hak untuk bernegoisasi dengan sang guru. Ia bukan asisten, bukan pula murid kesayangan. Hanya individu dengan jalan pikiran berbeda.
Ia duduk, menyilangkan kakinya di balik jubah, di bawah meja, seraya mendengarkan ketika Profesor Vector menerangkan tentang angka hati. Seketika perutnya menjadi mulas, seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan di dalamnya. Ko-nyol. Sejak memiliki hubungan aneh dengan seseorang yang berada satu naungan asrama dengannya, ia jadi lebih sensitif terhadap kata ‘hati’, ‘perasaan’, dan… yang terakhir ini terlalu memalukan untuk disebut. Tidak usah saja. Setelah berusaha keras mencerna apakah tugas yang dilimpahkan kepadanya—serta murid-murid lain, tentu—ia mengalihkan perhatian dengan menyambar perkamen dari tasnya dan mencoret-coretnya, mencoba menghitung angka hatinya.
EVENNA = E-E-A = 5+5+1 = 11 = 1+1 = 2
VAREON = A-E-O = 1+5+6 = 12 = 1+2 = 3
ECHOSKEE = E+O+E+E = 5+6+5+5 = 21 = 2+1 = 3
EVENNA VAREON ECHOSKEE = 2+3+3 = 8
Delapan—entah apa artinya. Sesungguhnya ia malah lebih tertarik untuk mencari angka hati seseorang dibandingkan mencari arti angka delapan di bukunya. Maka alih-alih membolak-balik buku tebalnya, Reon malah mengambil selembar perkamen lagi dan menulisinya dengan sebuah nama.
Rupanya, di usia empat belas tahunnya, ular betina itu semakin konyol.
Tuesday, April 27, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment