Greetings

Hello. My name is Tchi and this blog’s mine. I don’t write my own story here. I write about my RPG characters and Binjai Kingdom’s funny stories. Click here to read ‘my real stories’.

RPG Characters

RPG Characters

Sunday, April 25, 2010

Maxine Cafe, 2001

Gadis kecil berambut coklat memasuki café sendirian. Bukan karena tidak ada yang menemaninya—tapi gadis itu sedang berusaha untuk mandiri. Tepatnya, menghindari rasa malu apabila ketahuan masih ditemani kemana-mana. Ketahuan oleh siapa? Temannya, nanti. Oh, intinya ia datang ke café itu untuk mencari teman.

Carmélle, namanya, memutar kepala mencari tempat duduk yang masih kosong. Café tersebut cukup ramai, kebanyakan diisi oleh penyihir-penyihir belia seusianya beserta teman-teman mereka, membentuk suatu komunitas. Sayangnya ia belum memasuki komunitas apapun. Ia belum kenal siapa-siapa di luar lingkungan keluarganya. Tempat itu merupakan tempat yang tepat untuk membaur, tapi… tiba-tiba saja gadis itu jadi ragu. Bisa saja ia dikira sok akrab kalau tiba-tiba menyeruak di kerumunan tersebut dan menyapa mereka asal-asalan.

Setelah hampir lima menit berpikir dan tidak menemukan jawaban yang pas, Carmélle memilih untuk memesan makanan lebih dahulu. Cake serta minuman di sana selalu enak; ia dan keluarganya sering menghabiskan waktu di tempat tersebut, meskipun tidak begitu sering hingga pegawainya dapat mengingat wajahnya. Kira-kira beberapa kali dalam sebulan, begitulah.

Dengan langkah beralaskan sepatu warna merah bata menawan, ia mendekati pegawai yang siap menyambut serta mengambilkan pesanannya. Sebelum menyebutkan pesanannya, Carmélle tersenyum manis. Sekedar sopan santun, seperti yang diajarkan ibunya dari kecil. Kedua orang tuanya berasal dari keluarga bangsawan, tetapi keluarga ayahnya tidak begitu menekankan ‘perilaku-sempurna-khas-bangsawan’, berbeda dengan ibunya yang sangat anggun. Gadis belia itu sendiri, sebenarnya, lebih suka bersikap seperti ayahnya. Peraturan bangsawan kadang menyebalkan.

“Aku pesan Mango Parfait, salade de poulet, dan Sandwich au poulet.”

Banyak eh? Kalau tidak habis bisa dibungkus. Makanan yang dijual di café ini memang sangat menggugah selera, jadi bukan salah Carmélle ia memesan tiga menu sekaligus.

0 comments: