Greetings

Hello. My name is Tchi and this blog’s mine. I don’t write my own story here. I write about my RPG characters and Binjai Kingdom’s funny stories. Click here to read ‘my real stories’.

RPG Characters

RPG Characters

Sunday, April 25, 2010

Magasin de Quidditch, 2001

Gadis belia berambut coklat itu merapatkan syal cantik berwarna campuran merah putih keluaran terbaru Ghyslain Luxury—keluaran rumah mode milik keluarganya—agar lehernya tidak kedinginan. Jaket vintage merah yang melekat di tubuhnya belum cukup membuat hangat, rupanya. Ia berjalan sendirian melewati toko demi toko sampai akhirnya flat shoes putihnya berhenti di depan toko sapu.

Carmélle mengamati tempat tersebut. Tak perlu masuk untuk mengetahui bahwa toko tersebut menjual sapu dan peralatan Quidditch. Dalam etalase kacanya menjulang Thunderhugh Ciel, sapu terbaru yang pastilah ibunya tak mau membelikan. Gadis itu berdecak ketika teringat ketidakyakinan ibunya terhadap kemampuannya saat terbang, atau lebih tepatnya kecemasan. Tahun ini saja ia hanya diizinkan membeli sapu biasa (pesan ibunya, “Jangan yang terlalu ngebut! Jangan lupa beli buku panduannya!”) untuk digunakan di Beauxbatons. Ibunya, yang ia panggil Maman itu, selalu sangat berhati-hati. Dulu neneknya pernah bercerita kalau sang ibu sebetulnya bisa jadi pemain Quidditch andal kalau saja ia tidak lebih mencintai buku-buku. Ngomong-ngomong soal nenek, Carmélle jadi ingin mengunjungi Beliau di Inggris, dan bermain Quidditch lagi tentunya. Tahu tidak, nenek Carmélle adalah satu-satunya Beater perempuan di tim Quidditch angkatannya dulu?

Ah. Berharap saja Carmélle bisa seperti sang nenek.

Gadis bermata coklat terang itu masuk ke toko kemudian bergumam “waw”. Benar-benar khas Quidditch, bahkan nuansanya pun hijau. Seperti rumput di lapangan bermainnya. Bahkan langit-langitnya juga dihiasi sapu. Di sudut-sudut tempat tersebut sudah berjajar rak-rak berisi sapu bermacam merek dan ukuran. Carmélle melihat-lihat jenis sapu dan harganya. Ibunya memberi cukup banyak uang, tetapi ia lebih suka menyisakan uang tersebut untuk dihabiskan di toko pakaian—memiliki rumah mode sendiri tidak menjadikan gadis belia itu hemat dalam membeli pakaian, malah bisa dibilang lebih boros.

Oh, sekarang ia sudah menemukan sapu yang tepat. Di pojok sebelah kiri, yang mengilap itu. Cool, pikirnya. Harganya—410 Galleon. Sementara jatahnya 420 Galleon. 10 Galleon sisanya untuk membeli Broomstick Servicing Kit—oh, ini buruk. Tidak ada sisa sama sekali! Gadis itu mendesah, lalu didekatinya seorang pegawai seraya mengambil keping-keping Galleon dari tas kecil yang menggantung di dekat pinggangnya.

“Hai. Aku beli Thunderhugh Briel 12 dan Broomstick Servicing Kit.”

Bagaimana dengan buku panduannya? Bilang saja pada Maman kalau uangnya kurang.

0 comments: