Reon memasuki rumah kaca sambil melamun. Gadis itu melangkah pelan, berirama dua ketukan sejak dari pintu, sendirian dan tidak memutar-mutar kepala mencari seperti kebanyakan orang yang ‘merasa harus punya teman saat sendirian’, melangkahi akar entah tanaman apa yang menghalangi jalannya, terus hingga sepasang bola mata kelamnya bertemu dengan sosok tambun Profesor Sprout yang sedang duduk—well, ahli tanaman obat itupun berdiri ketika makin banyak murid yang memasuki kelas—tahu bahwa guru Herbologi itulah titik fokusnya.
Aneh. Biasanya gadis berambut hitam itu akan menginjak apapun yang menghalangi jalannya, tak peduli hanya sekedar akar atau tongkat orang. Pertanda keabnormalan, atau malah sikap murah hati belaka? Hah. Sesungguhnya tidak ada apa-apa. Reon mendekati kerumunan murid-murid lain yang terlebih dahulu datang, kemudian dengan cepat membaurkan diri, atau mengaburkan diri; sama saja. Di atas meja panjang dihadapannya telah berada tanaman berwarna kehitaman, mirip siput, bernanah, ditanam dalam pot berukuran lumayan besar. Bubotuber.
Dari segi tanaman, dunia sihir tidak lebih baik daripada dunia Muggle, batin gadis itu dalam hati. Ia hanya memerhatikan sambil lalu ketika Profesor Sprout menjelaskan panjang lebar dengan intonasi hangat serta riang membujuk, menitahkan mereka memanen nanah dari bisul-bisul tanaman aneh tersebut. Kemudian, seperti biasa, mereka harus melakukannya berkelompok, terutama untuk menangani bisul yang besar.
"Kau… Pegangi botol kacanya, ya? Biar aku yang pencet."
Yang baru saja berbicara itu perempuan. Reon menatapnya sesaat, sedikit kaget karena jarang sekali ada gadis yang tanpa basa-basi mau memencet nanah Bubotuber, namun sedetik setelahnya memutuskan untuk menghilangkan kebingungannya. Kalau ia memang bersedia, cuma orang bodoh yang mau mempersulitnya.
“Kalau itu maumu.” Jawab Reon cepat sambil mengenakan sarung tangannya, kemudian mengambil satu botol kaca berukuran sedang dan memegangnya di dekat bisul Bubotuber yang hendak dipencet oleh—Shelley. Meski tidak banyak bersosialisasi, empat tahun waktu yang lebih dari cukup untuk mengingat nama seluruh rekan seangkatannya, tentu.
Tuesday, April 27, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment