Greetings

Hello. My name is Tchi and this blog’s mine. I don’t write my own story here. I write about my RPG characters and Binjai Kingdom’s funny stories. Click here to read ‘my real stories’.

RPG Characters

RPG Characters

Friday, April 30, 2010

Danau, "So Close"

Danau.

Entah bagaimana, sepasang kaki jenjang Reon membawa gadis itu ke tempat ini. Tempat dimana sebuah cerita bermula, terpatri kuat seperti tercetak dalam lembar-lembar tebal perkamen kualitas terbaik, dengan tinta pena bulu terindah yang pernah ada. Namun entah bagaimana, perkamen-perkamen itu tampak koyak di tiap sisinya, mengiris kata-kata penuh makna yang sebelumnya telah lebih dulu ada.

Gadis berambut hitam itu tidak tahu apa yang membuat seseorang—pemuda itu—marah padanya. Bukan tepat marah, melainkan kecewa. Bukan raut sangar biasa dalam wajah orang itu, namun ekspresi miris yang entah bagaimana terhubung dengan nadinya, membuatnya merasa sakit yang sama. Ia ingin bertanya; tetapi gengsi dan malu sudah menjadi tameng tak terbantahkan dari karakter bawaannya. Ataukah, sekali itu saja, harus diluruhkannya ego demi sebongkah cinta?

Hidup kadangkala bisa menjadi begitu rumit.

Mendesah lelah, ia memutuskan untuk menyimpan dulu gundah gulananya, kemudian memasang topeng palsu yang biasa. Kesampingkan dulu semua resah. Berpura-pura tak ada suatu hal terjadi; berakting sebagus anggota klub drama di Hogwarts, meskipun ia bukan. Gadis bersuara bening itu sudah akan berbalik ketika indera pendengarannya menangkap suara samar dari tempat tak jauh darinya. Senandung pilu, seakan sengaja menjadi latar untuknya.

”So close, to reaching that famous happy end,”
“Almost believeing this was not pretend.”
“Let’s go on dreaming for we know we are..”
“So close, so close and still so far.”

Oh, Merlin. Nyaris saja bulir air menggesek bulu matanya. Gadis empat belas tahun itu sekuat tenaga menahan, menarik napas dalam berulang-ulang. Dicarinya asal suara itu, tak perlu waktu lama untuk menemukannya. Beberapa meter di sisi kirinya, seorang gadis junior berambut panjang tampak memandangi langit. Reon bergerak menghapus jarak, tetapi didahului seorang gadis lain yang tampak lebih muda, barangkali kelas satu.

Sekali-dua berinteraksi, tak apa. Lagipula belum tentu mereka ingin diajak bicara. Gadis berwajah oval itu mendekati kedua juniornya. Salah satu dari mereka tampak murung. Begitukah wajahnya sendiri barusan? Pikir Reon dalam hati. Tak kuasa ditahannya luncuran kata-kata.

“Kurasa wajahmu bisa lebih cantik lagi, kalau tidak murung.”

Itu persepsi berupa pujian atau bukan, sang pemilik kalimat pun tak tahu. Apakah ia bermaksud menghibur? Entahlah—terserah junior itu mau menanggapi bagaimana. Ia hanya mengatakan apa yang ada dalam benaknya. Gadis itu pasti tampak menawan dengan tawa riang, bukan dengan ekspresi sedih. Lagipula cukup ia yang merana hari ini.

0 comments: