Greetings

Hello. My name is Tchi and this blog’s mine. I don’t write my own story here. I write about my RPG characters and Binjai Kingdom’s funny stories. Click here to read ‘my real stories’.

RPG Characters

RPG Characters

Saturday, May 01, 2010

PAT, 2001

Oh, ya. Hidup itu kadangkala bisa menyenangkan, bisa tidak, porsinya seimbang. Namun bagi gadis belia berambut coklat itu, Carmélle, hidupnya saat ini sedang menyenangkan. Bayangkan saja, ia bisa masuk ke asrama yang amat sangat diharapkannya! Kalau boleh sedikit sombong, semua hal memang sebagian besar terjadi searus dengan keinginannya; tapi bukan berarti hidupnya tak pernah menyenangkan. Putri sulung keluarga bangsawan Ghyslain itu juga pernah kesal hingga menangis meraung-raung karena dimarahi ayahnya—beberapa bulan lalu, kalau tak salah. Hidup itu tidak ada yang sempurna, kan?

Tapi sekarang… ya, setidaknya mendekati sempurna dalam sudut pandang seorang gadis kecil yang baru berusia dua belas tahun dan belum makan asam garam kehidupan. Malam itu sudah cukup banyak kebahagiaan dalam rengkuhan mungilnya, cukup sampai kira-kira satu bulan ke depan, sebelum ia berkutat dengan pusingnya pelajaran sekolah. Setelah membiarkan mantel lembayung yang tadi dipegangnya tergeletak di salah satu meja, ia mendengar suara Kepala Sekolah, Madame Maxime, menyambut mereka dengan ucapan selamat datang.

Meskipun suaranya terdengar cukup keras, tapi Carmélle langsung menyukai wanita bertubuh sangat bongsor itu. Penampilannya elegan, berwibawa, namun tampak keibuan dalam waktu bersamaan. Hebat, eh? Beliau menyuruh mereka, para murid, bersenang-senang pula! Baik menikmati hidangan maupun berdansa.

Berdansa?

Bibir tipis gadis tersebut membentuk huruf o sempurna. Bolehkah? Carmélle suka sekali berdansa—ayahnya mengajarinya sedari kecil; katanya orang terhormat itu harus pandai berdansa. Entah perkataannya itu benar atau tidak, yang jelas tiba-tiba saja semangat gadis belia itu bangkit. Sayang sekali ia belum mengenal siapa-siapa di Beauxbatons; saat di kereta ia terkantuk-kantuk hingga tak sempat berkenalan serta mengobrol dengan sesama murid. Masa ia harus mendekati seseorang asal-asalan kemudian mengajaknya berdansa? Sungguh tidak etis. Jadi bagaimana cara agar ada yang mengajaknya berdansa…?

Bukan Carmélle kalau otaknya lambat berpikir. Ibunya bisa malu kalau ia jadi bodoh.

Gadis bermata coklat terang itu berjalan lambat-lambat mengelilingi taman, berpura-pura menikmati keindahan tersebut seraya menjauhi meja tempatnya tadi berada. Tidak terlalu jauh—hanya beberapa meter dan mantelnya masih bisa terlihat. Ya, mantelnya.

Setelah yakin kalau tak seorang pun menyadari bahwa ia meninggalkan mantel tersebut dengan sengaja, ia mendekati kerumunan orang dan bertanya seraya menunduk sopan.

“Maaf, ada yang melihat mantelku—mantel berwarna ungu muda?”

Bukan cari perhatian, bukan, sungguh! Ia hanya ingin berkenalan dengan murid-murid lainnya, siapa saja boleh kok; namun dengan cara berbeda dan 'sedikit iseng'. Akan tetapi semoga saja diantara orang-orang yang disapanya ada yang mau mengajaknya berdansa.

0 comments: