Kutukan Tak Termaafkan?
Bukan, bukannya Reon tak pernah mendengar kutukan itu sebelumnya—ia memang kelahiran Muggle bodoh, tapi tidak bodoh. Tapi selama ini dikiranya ketiga kutukan itu agak tabu dibicarakan oleh penyihir muda, apalagi di lingkungan sekolah. Kutukan yang dilarang digunakan, dimana penggunanya bisa dimasukkan ke penjara sihir, dan beberapa tahun lampau menjadi kutukan favorit para, ehm, Pelahap Maut?
Gadis bersuara bening itu memang tidak merasakan secara langsung bagaimana kejahatan para kaki tangan penyihir hitam paling ternama—sebelum kekuasaannya runtuh—itu; tapi dari bisik-bisik yang didengarnya selama empat tahun bersekolah di Hogwarts, yah, itu cukup untuk meremangkan bulu kuduk siapapun.
Jadi, guru satu itu bercanda atau memang serius?
Reon menegakkan posisi duduknya, tiba-tiba menjadi kaku. Ia sendiri seorang yang dingin dan tidak pedulian, tapi bukan berarti kejam, apalagi seperti para Pelahap Maut itu. Menyiksa dan melenyapkan nyawa seperti mengelap tongkat. Gadis empat belas tahun itu menghela napas dalam-dalam, sepasang indera pendengarannya mendengarkan dengan cermat kata-kata sang guru, yang kali itu tentu saja sudah beda lagi dengan guru pada tahun sebelumnya.
“Kutukan ini cukup terkenal di kalangan para Pelahap Maut—nah, sebelum kita terjun lebih dalam, ada yang bisa mengatakan padaku, apa itu Pelahap Maut?”
Tak ada seorangpun yang tak merasakan atmosfer was-was mengitari seantero ruangan. Reon yakin kalau ia memutar kepala melihat wajah rekan-rekannya, ia akan menemukan raut gelisah dan cemas dari tiap ekspresi mereka. Reon tahu, ia bisa cukup tenang karena tak begitu mengetahui seperti apa mereka, hanya membaca dari buku dan mendengar cerita saja. Lagipula gadis itu bukan gadis sembarangan yang bisa ditakut-takuti seenak jidat. Hanya saja, karena orang dewasa pun takut pada kelompok bertudung hitam itu—bibi angkatnya yang juga penyihir kelahiran Muggle, Evelyn, berjengit setiap mendengar cerita mengerikan tentang mereka—maka ia tak mau pasang tampang sok berani. Lagipula Reon bukan tipe sok jago; hanya orang konyol yang berpura-pura hebat padahal dalam hati gemetar.
Tapi, kalau sekedar untuk menjawab pertanyaan, siapapun berani, tentu. Ia segera mengacungkan jari, membelah kesunyian, mendaraskan kata-kata dari mulutnya.
“Pelahap Maut adalah sebutan bagi... pengikut Kau-Tahu-Siapa. Mereka bertindak kejam dan menggunakan Kutukan Tak Termaafkan kepada para Muggle, atau penyihir keturunan Muggle..."
Baiklah. Meskipun bernaungkan asrama Slytherin yang mayoritas berdarah murni, namun ia merupakan kelahiran Muggle, mungkin satu-satunya? Sebaiknya ia bersyukur tak ada lagi sang penyihir hitam dan pengikutnya. Kalau tidak, ada kemungkinan ia sudah merenggang nyawa, kan? Hah. Herannya, ia tidak merasa salah masuk asrama.
Saturday, May 01, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment