Menuju sekolah dengan kereta kuda…
Kereta kuda yang cool—baik dalam arti harfiah maupun bukan, bagi gadis belia bernama Carmélle Ghyslain itu. Perjalanan mereka, ia dan murid-murid lainnya, menuju ke Beauxbatons memerlukan waktu cukup lama hingga surya pun mulai berlari ke kaki langit. Ketika kuda-kuda sebesar gajah itu akhirnya berhenti, sang gadis berwajah oval itu sudah menguap beberapa kali, mengantuk karena lelah hanya duduk saja selama di kereta. Bersama rombongan calon rekan seangkatannya yang lain, ia turun pelan-pelan dari kereta, dengan gaya anggun yang khas, berbaris di belakang seorang anak yang belum dikenalnya.
"Bienvenue à l'Académie Beauxbâtons."
Seorang peri mungil baru saja menyambut mereka. Carmélle tersenyum menanggapi sambutan tersebut. Ia menyukai peri sejak kecil, karena dongeng indah peri banyak dikisahkan oleh ibunya, baik versi penyihir maupun Muggle. Dengan isyarat dari tangan mungilnya, peri itu menuntun si gadis kecil beserta murid-murid lainnya menuju sebuah tempat—ternyata sebuah gerbang, tak terlalu besar ukurannya. Siswa-siswi senior disuruh masuk terlebih dahulu, dan gadis belia itu bersikap ‘pura-pura’ sabar, padahal terasa ada yang meloncat-loncat di perutnya, campuran dari tegang dan tidak sabar.
Aku berada di Beauxbatons, batinnya bersemangat. Akhirnya. Waw.
Begitu melewati pintu gerbang, sepasang bola mata cokelat terang Carmélle mendapati bahwa kini ia berada di sebuah taman bunga yang sangat indah. Ia bisa mengenali serta mencium aroma freesia, lilac, dan mawar di dekatnya. Setelah beberapa detik mengagumi taman tersebut, ia baru menyadari bila atmosfer yang mengelilinginya tidaklah dingin, justru hangat, meski hari telah temaram. Seraya melepaskan mantel sewarna lembayung dari tubuhnya dan memegangnya di tangan kiri, benaknya seketika bertanya-tanya siapakah yang telah menciptakan tempat mengagumkan ini. Kepala Sekolah Beauxbatons-kah?
Belum sempat ia memikirkan hal tersebut lebih jauh lagi, seorang wanita yang warna serta tata rambutnya mirip dengan gadis muda itu sendiri memberikan kata sambutan, menggantikan peri kecil tadi—yang tanpa disadari Carmélle sudah terbang entah kemana. Beliau menginstruksikan para murid tahun pertama untuk mencelupkan ujung tongkatnya ke dalam air yang ada pada patung berbentuk dahan pohon dengan sosok malaikat di tepinya. Gadis itu pun mengeluarkan tongkatnya, tongkat Garnet tiga puluh satu senti berinti akar Tentakula Berbisa, yang kata pegawai tokonya lumayan mengerikan. Ia malah menyukainya; toh sejauh ini indera pengelihatannya hanya menangkap sebentuk tongkat cukup panjang kecoklatan, bukan perwujudan riil dari akar tumbuhan menakutkan tersebut.
Carmélle menunggu dengan tegang dan harap-harap cemas hingga namanya dipanggil. Sesungguhnya dari ketiga asrama, hanya satu yang sangat ingin dimasukinya. Bukan karena keinginan ego semata, tapi karena ia merasa karakternya terdapat dalam asrama itu. Carmélle tidak merasa pemberani, sangat baik hati, ataupun malah ambisius serta hebat untuk masuk ke dua asrama lainnya—tapi penentunya adalah ornamen keperakan beberapa meter dihadapannya itu, bukan dirinya sendiri.
Jadi, ketika namanya disebutkan, gadis dua belas tahun dua belas hari itu berjalan maju dengan langkah berirama kemudian mencelupkan ujung tongkatnya seraya mengulang-ulang sebuah kalimat dalam hati, penuh harap.
Semoga patung ini bisa membaca keinginanku.
Thursday, April 29, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment