Pembukaan kelas di tahun keempat Reon di Hogwarts adalah cengiran lebar Profesor Al-Kazaf—Profesor, kan? Kelihatannya masih muda sekali—dan sambutan yang bermuara pada permintaan maaf karena tahun sebelumnya telah memberikan materi yang tidak memuaskan. Oh. Acara duduk saja itu? Bagi sang gadis muda, ‘materi’ satu itu memang tidak memberikan apa yang ia kehendaki dari pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib yang layak. Namun menurut sudut pandang cuek dan tidak pedulinya, maka pelajaran semacam itu bukanlah menjadi suatu kerugian besar; mungkin hanya para elang yang berpikir demikian.
Tapi, well, ada bagusnya juga guru ini mengevaluasi diri dan memperbaiki cara mengajarnya. Karena bagi dara yang lahir di hari natal itu, satu dari sangat sedikit hal menarik di dunia sihir adalah hewan-hewannya—pasti lebih menarik daripada burung kolibri atau ayam. Dan satu-satunya harapan untuk melihat mereka di Hogwarts, mungkin hanya dengan mengikuti pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib. Ia tak mau memilih jalur kedua; sering-sering mengobrol dengan Hagrid si pengawas sekolah yang agaknya merupakan keturunan Troll. Tsk.
Tak berapa lama kemudian, setelah diawali isyarat tepukan tangan sang guru, seekor makhluk berwarna biru keluar dari balik dedaunan. Naga bersisik biru. Menghembuskan napas api yang sekejap menghanguskan dahan, membuat Reon tak dapat menahan kekagetan serta kekagumannya. Seandainya ia memiliki kemampuan semacam itu—hanya pada bagian menghanguskan sesuatu, bukan bernapas api. Cih, pikiran kekanakannya entah bagaimana tiba-tiba muncul. Pikiran konyol yang harus dikubur, karena ia bukanlah manusia berkekuatan ajaib.
Lagipula ia punya tongkat untuk melakukan, ya, hal seperti itu.
“Nah nah, tetap pada tempat kalian. Walau masih anakan dan besarnya hanya setengah badan kalian, jangan kira tingkat keberbahayaannya juga menjadi kecil,”
Masih anakan, eh? Bagaimana dengan naga dewasanya? Sebuah rumah tipe sederhana tampaknya bisa dijadikan pembanding ukuran. Seberapa besar mantra yang digunakan untuk memproteksi satu satwa ini saja agar tidak dijadikan hot issue di koran Muggle? Kekuatan sihir ternyata memang lebih dahsyat daripada perkiraannya. Kembali ke naga beberapa meter dihadapannya itu; hewan itu sangat membangkitkan minat. Akankah nanti ia diizinkan untuk mendekati naga tersebut, atau malah dilarang mempersempit jarak meski satu meter saja? Para murid memang disuruh tetap pada tempat mereka berada sekarang, tapi, siapa tahu.
Bisik-bisik yang mengudara dihalau oleh sang guru; Profesor Al-Kazaf menyuruh mereka jangan berisik. Disusul perintah untuk mengamati apapun yang berkaitan dengan makhluk satu itu, serta satu pertanyaan yang langsung dijawab oleh seorang Gryffindor, Carnelian—bukan berarti ia mau menjawab. Kalau benar itu Moncong Pendek Swedia (gadis itu belum pernah melihat seekor naga pun, kecuali di buku) setahunya Moncong Pendek Swedia memang tidak banyak membunuh, lebih ‘kalem’ daripada Bola Api Cina yang suka memangsa babi dan manusia. Meski lahir dan selama sebelas tahun hidup bersama Muggle, ia jauh lebih suka membaca buku-buku pelajaran dunia sihir daripada buku dunia Muggle, karena itu ia tahu.
Thursday, April 29, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment