Greetings

Hello. My name is Tchi and this blog’s mine. I don’t write my own story here. I write about my RPG characters and Binjai Kingdom’s funny stories. Click here to read ‘my real stories’.

RPG Characters

RPG Characters

Saturday, April 17, 2010

First Letter

Seorang gadis berdiri melipat tangan di dada, di teras sebuah rumah besar bergaya artistik di pinggiran kota Arles. Rambutnya yang coklat bergelombang menari-nari seiring tubuhnya yang bergerak bolak-balik dari satu sudut ke sudut lainnya. Gadis muda itu menggigit bibir, dahinya mengerut kesal. Kakinya mengentak-entak, menimbulkan suara berisik di lantai berkeramik coklat tersebut. Tampak jelas bahwa ada sesuatu yang ditunggunya sedari tadi. Tak lama kemudian gadis bertubuh langsing itu merasa lelah mondar-mandir dan duduk di terasnya dengan wajah tertekuk.

Batinnya sibuk menceracau, sedikit meyakinkan diri sendiri. Ia pasti akan mendapatkan surat pemberitahuan itu. Papa sudah mendaftarkannya, kan? Lagipula ia berdarah murni, kemampuan sihirnya pun sudah mulai muncul meski tak sering. Ia sudah berkoar-koar pada sepupu-sepupunya yang masih kecil-kecil—berhubung dia cucu tertua bagi dua pasang kakek-neneknya—kalau akan masuk Beauxbatons seperti ayahnya. Dan kalau ia sudah berkata, maka hasilnya harus tepat sama. Semua harus sesuai kehendaknya.

Carmélle berdecak lagi. Umpatan keluar dari bibir merah mudanya. Mana peri pembawa pesan itu? Mana suratnya??? Ia sudah tidak bisa menahan kesabaran lebih lama. Kalau lima menit lagi peri itu tak datang, ia akan langsung menyuruh Papa menghubungi Madame Maxime! Pertama, untuk menuntut surat pemberitahuan yang seharusnya ia dapatkan, dan kedua, menyuruh Kepala Sekolah Beauxbatons itu memecat peri pengantar surat yang lamban!

“Bersabarlah sedikit, sayangku.” Suara sopran familiar terdengar dari balik bahunya. Carmélle membalikkan badan, bertemu pandang dengan ibunya yang sangat jelita. Omelan sepanjang rel kereta sudah siap di ujung lidahnya, namun kemudian ia mendesah. Entah bagaimana tatapan ibunya selalu bisa membungkam ketidaksopanannya. Meski hanya di depan ibunya saja. Jadi, alih-alih mengomel, gadis itu merentangkan kedua tangan, merenggangkan tubuhnya seraya mengeluh kecil.

“Lama sekali, Maman! Aku sudah tidak sabaaar!”

Ibunya tersenyum dengan cara yang persis seperti dirinya. Wanita bermata keemasan itu duduk di samping putrinya, mengelus rambutnya dengan sayang. “Beberapa menit, mon amour. Setelah itu kau akan menjadi murid Beauxbatons, seperti ayahmu.”

Tepat setelah ibunya menghibur dengan lembut, terdengar bunyi plop pelan pertanda si peri sudah muncul. Peri itu mungil, sepanjang penggaris. Wajahnya nyaris tertutup oleh perkamen-perkamen yang ia bawa. Tanpa basa-basi, peri itu menyerahkan surat pemberitahuan yang sejak tadi dinanti-nanti. Senyum kegirangan merekah nyata di wajah Carmélle, ia pun langsung memekik dan berlari masuk ke dalam rumah. Ibunya hendak menyusul, namun tertahan oleh kata-kata si peri—meminta balas jasa. Wanita itu menyerahkan sebungkus coklat pada peri itu, lalu mengiringi kepergian si peri dengan tawa ramah. Dari dalam rumah, putrinya memanggil.

“Maman! Cepat masuk! Ayo kita baca suratku!!”

0 comments: