Satu sikatan lagi, dan beres. Sekarang lanjut ke ubin selanjutnya.
Reon tidak menghitung berapa ubin yang sudah disikatnya—yang penting harus selesai satu bilik. Meski lelah, gadis berwajah oval itu tak sekalipun mengeluh, bahkan berbicara saja tidak. Hampir seperti seorang tuna wicara. Dinikmatinya detensi dengan diam dan ketenangan. Hanya indera pendengarannya saja yang menangkap gelombang suara obrolan dari rekan-rekan seangkatannya.
Gadis itu tidak ingin ikut mengobrol, kok. Tidak bisa. Seakan ada selubung tipis di antara dirinya dan orang lain, melungkupi raga duniawinya. Katakanlah selubung tersebut merupakan ego. Tingkat keangkuhan di atas level standar. Campur gengsi. Menghasilkan sosok gadis anti sosial yang hanya mau mengobrol dengan seseorang saja—atau beberapa, tergantung bagaimana topiknya.
Sepasang mata onyx-nya menerawang. Bergelayut dalam alam bawah sadarnya, sendirian. Menghabiskan dua-tiga menit untuk melamun sampai tiba-tiba bukan lagi lantai yang disikatnya, melainkan tangan. Gadis empat belas tahun itu meringis, menyumpah dalam hati. Dituangkannya cairan pembersih ke tutup botolnya, menakar, sebelum isi tutup botol itu dituangkannya ke lantai lembap. Kali ini lebih berkonsentrasi. Gosok, gosok, gosok.
Sial, batinnya merengut kesal. Ditatapnya sekeliling dengan sangar. Mereka semua, ia dan para murid yang terkena detensi, tampak lebih merana daripada para peri rumah. Memang tak ada seorang penyihir pun yang akan rela mengerjakan pekerjaan bersih-bersih a la Muggle itu, beda dengan peri rumah yang diketahuinya malah menyukai pekerjaan beres-beres—selama itulah yang diperintahkan tuan mereka. Kalaupun ada penyihir yang sengaja mau membuat tangannya pegal-pegal dibanding mengayunkan tongkat sambil mendaraskan mantra, Reon yakin otak orang itu tak lebih dari otak udang.
Atau kepiting, terserah yang mana saja.
Monday, May 10, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment